Berikut ini 7 JENIS PABRIK yang sangat boros dalam penggunaan energi, kenapa demikian?
Bukan karena faktor disengaja tanpa perhitungan, namun memang ke-7 jenis pabrik ini membutuhkan energi yang sangat besar dalam proses pengolahannya, apa saja 7 JENIS PABRIK itu:

  • Pabrik CPO (Minyak Sawit)
  • Pabrik pulp & kertas
  • Pabrik Textile
  • Pabrik Semen
  • Pabrik Baja
  • Pabrik Keramik

Mari kita fokus pada penggunaan sumber air (energi air) , ke-7 Jenis Pabrik diatas syarat menggunakan air bersih dalam proses pemurnian dan pembersihan material baku mereka hingga proses finalisasi produk akhir. Dalam hal tersebut para engineer mereka pasti sudah mengkalkulasi kebutuhan air seefisien mungkin, namun kita harus mencari cara penghematan air agar ke-7 Jenis Pabrik diatas tidak semakin menghabiskan sumber air bersih. Berikut ini MURAKABI akan tunjukkan satu contoh proses pengolahan di PABRIK SAWIT:

Diagram diatas kami sadur dari Jurnal dengan Judul: “Konsumsi Air Dan Potensi Penghematan Pada Proses Produksi CPO PT. xxxxx (red)” dengan nomor jurnal ISSN.1907-500. Bisa kita saksikan bahwa dalam setiap proses CPO (crude palm oil) atau minyak sawit sangat membutuhkan air yang sangat banyak. Bahkan dari jurnal tersebut menyatakan bahwa pabrik sawit membutuhkan air sebesar 2,27 ton/ton TBS (Tandan Buah Segar) , artinya konsumsi air bersih lebih dari 2x lipat dari jumlah biji sawit yang diolah.

Lalu bagaimana dengan JENIS PABRIK lainnya? Secara proses produksi mungkin bisa dipastikan memiliki komparasi yang sama antara bahan olahan dan jumlah air bersihnya, yaitu kisaran 2x – 3x lipat, karena semakin panjang proses produksi pengolahan pabrik maka akan semakin banyak konsumsi air bersihnya.

Solusi Yang Bisa Dilakukan?

Meskipun kita tahu pabrik-pabrik tersebut pasti memiliki sumur satelit yang memiliki kedalaman lebih dari 100 meter , yang artinya tidak terlalu mengganggu siklus air residensial secara DALAM WAKTU DEKAT, namun lama kelamaan Aquiver (urat air) di kedalaman pun akan semakin terganggu jika terus-terusan disedot oleh pabrik dalam jumlah yang besar. Apalagi jika posisi pabrik-pabrik tersebut jauh dari sumber air lainnya seperti sungai & laut, maka lambat laun air tanah akan semakin mengering jika disedot secara berlebihan oleh pabrik-pabrik diatas.

Mari kita cari solusi untuk penghematan air agar kebutuhan operasional produksi pabrik-pabrik diatas tetap berjalan namun tidak terlalu mengganggu ekosistem air pada lingkungan di sekitar pabrik, apa saja yang bisa dilakukan oleh pabrik agar dapat menghemat air?

  1. Memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) – seluruh pabrik wajib memiliki IPAL , namun pada kenyataannya masih banyak pabrik yang memilki IPAL hanya “Sekedar Syarat” memenuhi AMDAL, terkadang IPAL mereka tidak berfungsi sebagai mana mestinya.
  2. Water Treatment Plant Lanjutan (Water Recycling System) – setelah melalui proses IPAL , hendaknya pabrik memiliki instalasi water treatment plant lanjutan dengan tujuan untuk mengolah kembali air limbah mereka menjadi AIR BERSIH dan dapat digunakan kembali untuk proses produksi mereka. Pertanyaannya adalah, mau apa tidak?
  3. Memanfaatkan air laut sebagai sumber air bersih – jika pabrik-pabrik tersebut memiliki akses ke air laut , maka sebaiknya mereka memiliki instalasi pengolahan air laut yang mana kita ketahui air laut dapat dibilang sumber air yang tidak akan pernah habis, namun memang tidak semua pabrik / perusahaan memiliki akses ke bibir pantai / laut.
  4. Memanfaatkan air sungai sebagai sumber air bersih – air sungai adalah sumber air yang tergolong tidak terbatas , namun harus mengikuti kaidah-kaidah / aturan mengenai pemanfaatan air sungai yang ditentukan oleh pemerintah.
  5. Mengolah air hujan menjadi sumber air bersih – solusi ini memang berlaku untuk pabrik-pabrik yang memiliki posisi geografis dengan curah hujan yang cukup tinggi, sehingga investasi pengolahan air hujan mereka akan bekerja optimal, namun opsi ini jarang dilakukan oleh pabrik-pabrik sekalipun posisi mereka yang berada di geografis dengan curah hujan tinggi.
PENGOLAH AIR HUJAN